Tugas Bahasa Indonesia membuat karangan fiksi

Musuh di Medan Perang, Sahabat di Meja Perjamuan


Di Kerajaan Valderra, dua kesatria terbaik saling berhadapan dalam pertempuran sengit. Sir Aldric kesatria setia kepada Raja Edmund, dengan gigih mempertahankan benteng terakhir kerajaan dari serangan pasukan pemberontak. Di seberangnya, berdiri Lord Varian, pemimpin pemberontak yang terkenal dengan keganasannya di medan perang.  


"Kau tidak bisa menang, Aldric!" teriak Varian sambil menebaskan pedangnya. "Kerajaan ini korup! Raja Edmund hanya peduli pada kekuasaannya sendiri!"  


Aldric mengernyit, menangkis serangan Varian dengan gesit. "Kau salah, Varian. Dan aku tak akan membiarkanmu menghancurkan Valderra!"  


Pertempuran berlangsung berhari-hari. Namun, ketika kabar buruk tiba—pasukan bangsa barbar dari utara menyerang perbatasan—segala sesuatu berubah.  


Raja Edmund mengirim utusan untuk berunding dengan Varian. "Kita harus bersatu, atau Valderra akan jatuh," kata sang utusan.  


Varian awalnya menolak, tetapi Aldric sendiri yang datang ke kemahnya—tanpa senjata.  


"Aku tidak datang sebagai musuh," kata Aldric. "Aku datang sebagai sesama kesatria Valderra. Jika kita terus bertempur, rakyat kita yang akan menderita."  


Varian diam sejenak, lalu menghela napas. "Kau berani datang ke sini sendirian. Mungkin... memang sudah waktunya gencatan senjata."  


Dengan persetujuan Raja Edmund dan Varian, pasukan kerajaan dan pemberontak bersatu melawan invasi barbar. Aldric dan Varian bertempur berdampingan, saling melindungi. Dalam pertempuran itu, Aldric menyelamatkan Varian dari serangan mematikan, dan Varian membalasnya dengan menahan tombak yang nyaris menembus dada Aldric.  


Setelah kemenangan besar, Raja Edmund mengakui kesalahannya dan berjanji untuk memerintah dengan adil. Varian dan para pemberontak diberikan pengampunan, bahkan Varian diangkat menjadi Penasihat Kerajaan.  


Di sebuah perjamuan besar, Aldric dan Varian duduk bersampingan.  


"Tak pernah kubayangkan kita akan seperti ini," kata Varian sambil meneguk anggur.  


"Aku juga," jawab Aldric sambil tersenyum. "Tapi kau ternyata tidak seburuk yang kukira."  


Varian tertawa. "Begitu pula kau, Aldric. Mungkin kita harus lebih sering bekerja sama."  


Dan sejak saat itu, dua mantan musuh itu menjadi sahabat sejati,  membangun Valderra yang lebih baik bersama.  


THE END.

Comments